Diskusi Sastra Bersama Taufiq Ismail

Pada hari Sabtu, 21 Oktober 2017, telah diadakan diskusi sastra antara Taufiq Ismail dan PERPIKA. Acara tersebut diselenggarakan di KBRI Seoul, tepatnya pada pukul 13.30 hingga 15.30. Teman-teman pasti sudah sangat familiar dengan nama Taufiq Ismail, karena banyak puisi beliau yang harus kita pelajari semasa kita berada di jenjang SD, SMP ataupun SMA. Acara dibuka dengan sambutan oleh Ketua PERPIKA, Aldias Bahatmaka, yang kemudian langsung dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipimpin oleh MC dengan Taufiq Ismail sendiri sebagai narasumber acara tersebut.

Cukup banyak hal yang disampaikan oleh Taufiq, semisal keprihatinan beliau akan rendahnya minat baca yang dimiliki oleh para siswa Indonesia, yang tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh perhatian dari pihak sekolah yang cukup minim untuk masalah membaca tersebut. Beliau membuat perbandingan dengan negara-negara maju, yang rata-rata mewajibkan siswa sekolah untuk membaca lebih dari 20 karya sastra di negara masing-masing, sementara di negara kita tidak ada kewajiban membaca karya sastra seperti itu. Walaupun ada, hanya sebatas membaca rangkuman dari karya sastra yang ada. Beliau juga menghimbau para peserta di acara tersebut untuk menggiatkan diri menulis, apapun kesibukannya. Meskipun mungkin penulisan yang dilakukan agak tersendat di tengah, sebaiknya penulisan tersebut disimpan terlebih dahulu dan kemudian dilanjutkan lagi jika ada lowong.

Setelahnya, acara ditutup dengan pembacaan puisi berjudul “Panmunjeom” oleh Taufiq Ismail, yang beliau buat pada saat beliau berada di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan 47 tahun silam. Tema puisi yang dibacakan tersebut adalah perasaan beliau saat menyaksikan ketegangan kedua negara tersebut, yang terasa sangat intens di perbatasan tersebut. Terakhir, diadakan sesi foto bersama dan acara resmi selesai. Cukup banyak hikmah yang bisa dipetik dari diskusi tersebut, antara lain bahwa jendela dunia adalah dengan menulis dan kita dapat berpengaruh terhadap dunia lewat tulisan yang kita akan publikasikan.

 

Penulis: Bivan Alzacky
Harmanto, Mahasiswa KAIST, School of Computing.

Photographer: Prita Meilanitasari, Mahasisa S3 PKNU, Busan.