Delegasi PERPIKA di Simposium Asia Oseania 2017 di Taipei

Bertepatan dengan Simposium PPI Taiwan di Taipei (23-25 Maret 2017), diselenggarakan Simposium Asia Oseania 2017 oleh PPI Taiwan. Simposium yang merupakan agenda tahunan dari PPI kawasan Asia Oseania ini turut dihadiri oleh perwakilan mahasiswa Indonesia dari 8 negara, diantaranya Tiongkok, Taiwan, Filipina, Thailand, Malaysia, India, Australia, dan juga Korea Selatan (PERPIKA) yang diwakilkan oleh Sdr. Muhamad Erza Aminanto. Berbeda dengan tema “Southbound Policy” yang diangkat pada Simposium PPI Taiwan, simposium Asia Oseania 2017 kali ini mengusung tema “Pendidikan dan Peran Diaspora Indonesia”.

Simposium Asia Oseania Taiwan 2017

Dibuka oleh Bpk.Robert James Bintaryo (Kepala Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei), Simposium hari pertama ini turut mengundang beberapa keynote speaker, antara lain Bpk. Arief Suditomo (Anggota Komisi VIII DPR RI), Bpk. Makarim Wibisono (Mantan Duta Besar untuk PBB), Bpk. Julian Aldrin Pasha (Mantan Juru Bicara Kepresidenan), perwakilan Kementrian Budaya dan Pariwisata setempat dan beberapa pemenang untuk call for paper. Malam harinya, seluruh delegasi negara dan peserta diberi kesempatan untuk menghadiri PPI Night yang bertempat di kantor KDEI.

Hari berikutnya diisi dengan agenda dari PPI kawasan Asia Oseania. Simposium kali ini terbagi dalam 3 sesi panel dimana setiap panelnya memiliki tema diskusi dan pembicaranya masing-masing. Sesi pertama menghadirkan Bpk. Ferdiansyah (Wakil Ketua Komisi X DPR RI), Bpk. Arif Suditomo (Anggota Komisi VIII DPR RI) dan Bpk. Erry Ricardo (Perwakilan Kemenristek Dikti). Beberapa poin penting yang diperoleh dari sesi pertama adalah

  1. Terdapat tiga pilar kebijakan pendidikan, yaitu:
    1. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan;
    2. Peningkatan mutu, Relevansi, dan daya saing pendidikan dan
    3. Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan.
  2. Sebagai bagian dari elite pendidikan, mahasiswa mempunyai power besar untuk mengubah Bangsa Indonesia kearah yg lebih baik.
  3. Belum meratanya kuantitas & distribusi tenaga pendidik di Indonesia menjadi tantangan bersama.

Sesi selanjutnya yang bertemakan“Global and Regional Challenges; The Role of Education in Molding Indonesia’s Labor Force Against External Competition”, diisi oleh lima pembicara yaitu: 1. Bpk. Imdadun Rahmat (KOMNAS HAM); 2. Tubagus Iman Ariyadi (Bupati Cilegon); 3. Bpk. Akhyari Hananto (Founder Goodnews Indonesia); Ibu Paramitha Ningrum (Bina Nusantara University) dan Ibu Maria Indira Aryani (call for paper).

Dan pada panel diskusi terakhir yang dimoderatori Muhamad Erza Aminanto (PERPIKA) menghadirkan tiga pembicara yaitu Prof. Nangkula, Bpk. Haris dan Bpk. Gilang. Pada sesi terakhir ini terdapat 3 poin yang patut digaris bawahi, diantaranya

  1. Perlu adanya perubahan dari budaya riset sendiri menjadi riset bersama/kolaborasi.
  2. Bekerja diluar negeri bukan berarti tidak berkontribusi untuk bangsa, karena kontribusi dapat dilakukan dengan berbagai cara dan dimanapun kita berada.
  3. Faktor-faktor penting keberadaan diaspora, diantaranya populasi, transisi dan distribusi. Kontribusi dari diaspora diantaranya: agent of change, agent of promotion dan agent of educator.

Pada hari terakhir simposium, acara diawali dengan workshop jurnalisme dari Radio Republik Indonesia (RRI) dan dilanjutkan dengan bedah buku “graduate before time” karya Prof. Nangkula yang berisi 18 tips dan trik pengalaman pribadi beliau dalam menyelesaikan studi master selama 6 bulan dan doctor dalam 2,5 tahun. Simposium ditutup dengan agenda rapat kerja kawasan PPI Asia Oseania yang berisi sharing program kerja dari masing-masing negara dan pembahasan program kerja bersama PPI kawasan Asia Oseania. Dengan hadirnya PERPIKA dalam simposium kali ini diharapkan dapat turut berkontribusi bagi Indonesia dimanapun berada serta menjadi penguat tali silaturahmi diantara PPI kawasan Asia Oseania ini. Salam Perhimpunan…

Seluruh Delegasi setiap negara kawasan Asia Oseania

Seluruh Delegasi setiap negara kawasan Asia Oseania

Agenda symposium di hari terakhir diisi dengan beberapa kegiatan. Diawali dengan workshop jurnalisme dari Radio Republik Indonesia (RRI). Dilanjutkan dengan bedah buku “graduate before time” karya Prof. Nangkula yang berisi 18 tips dan trik dari pengalaman pribadi beliau ketika menyelesaikan studi master selama 6 bulan dan doctor dalam 2,5 tahun saja. Agenda symposium ini ditutup dengan agenda rapat kerja kawasan PPI Asia Oseania yang berisi sharing program kerja dari masing-masing negara dan juga pembahasan program kerja bersama PPI kawasan Asia Oseania ini. Dengan turut hadirnya PERPIKA dalam symposium kali ini diharapkan dapat turut ambil bagian untuk berkontribusi bagi pelajar Indonesia dimanapun berada serta menjadi penguat tali silaturahmi diantara PPI kawasan Asia Oseania ini. Salam Perhimpunan…